
Madiun dengan sambal pecel sebagai makanan khasnya adalah daerah di Jawa Timur yang terletak di bagian barat, menyimpan banyak riwayat sejarah dan legenda. Di antaranya adalah
kisah sejarah tentang dua wanita yang bernama Retno Dumilah atau Retno Jumilah
dan Nyi Adisara.
Sebelum membahas kisah Retno Dumilah tersebut, ada
baiknya kita menengok sejarah yang melatarbelakanginya. Diceritakan bahwa
Senopati atau Sutawijaya, penguasa pertama Kerajaan Mataram, relatif sangat
ekspansif selama masa pemerintahannya. Dia berkehendak untuk menguasai
tanah Jawa seperti yang pernah dilakukan oleh kerajaan-kerajaan pendahulunya
(Demak dan Pajang).
Senopati tahun 1587 berhasil
mengalahkan mertuanya, Sultan Hadiwijaya, Raja di Pajang. Latar belakang
penyebabnya ada beberapa kemungkinan. Di antara penyebabnya adalah kebiasaan
Sultan Pajang yang suka kawin dan kasus Tumenggung Mayang (anak Tumenggung
Mayang meniduri puteri Adiwijaya).
Saat Raja Pajang wafat, tahun 1587,
beberapa saat setelah perang dengan Senopati, maka Sunan Kudus mengundang anak
dan menantu Sultan Pajang.Di depan khalayak ramai, Aria Pangiri, menantu
Adiwijaya yang waktu itu menjadi Adipati Demak, diangkat oleh Sunan Kudus
menjadi pengganti Sultan Pajang. Sementara itu Jipang diserahkan
kepada Pangeran Banawa (I), anak tertua Sultan Pajang[1].
Adipati Demak
setelah pengumuman itu lalu pindah ke Pajang dan membawa banyak orang Demak ke
sana. Ketidakadilan timbul sehingga menyebabkan banyak orang Pajang membelot.
Di antaranya ada yang ke Mataram.
Kegelisahan di
Pajang ini juga dirasakan oleh Pangeran Banawa (I) yang lantas mengirim utusan
ke Mataram. Setelah dirayu lebih dari sekali, apalagi Pangeran Banawa berjanji
akan menyerahkan tahta Pajang kepada Senopati daripada kepada Aria Pangiri,
maka pada pertemuan keduanya di Weru Gunung Kidul, terjadilah kesepakatan
Banawa dengan Senopati untuk menyerbu Pajang.
Pajang direbut
setelah melalui pertempuran singkat. Kekalahan Aria Pangiri terutama disebabkan
karena adanya pembelotan tentaranya. Aria Pangiri tidak dibunuh namun
dikabarkan kembali ke Demak. Kabar lain mneyatakan bahwa ia mengungsi
bersama keluarganya hingga sampai ke Banten[2].
Banawa diangkat
Senopati menjadi Sultan Pajang walaupun sesungguhnya tidak mau. Setahun
kemudian, sekitar tahun 1588 ia dikabarkan meninggal atau pergi bertapa.
Gagakbaning, adik ipar Senopati, diangkat menjadi adipati di Pajang. Dengan
demikian Mataram relatif telah berkuasa atas Pajang, Demak dan berbagai
kadipaten bawahan Pajang sebelumnya.
Senopati masih
belum puas sebab para penguasa Jawa Timur yang semasa jaka Tingkir tunduk patuh
kepada Pajang, beramai-ramai melepaskan diri dan membentuk aliansi di bawah
pimpinan Pangeran dari Surabaya.
Untuk
mendapatkan kembali legitimasi atas kekuasaannya di Tanah Jawa, sekitar tahun
1589, Senopati mengirim surat kepada Sunan di Giri (kalau tidak Sunan Giri
Parapen mungkin anaknya Panembahan Kawisguwa yang merupakan Sunan Giri yang
pertama). Senopati meminta ramalan yang berkaitan dengan rencana serangannya ke
Jawa Timur.
Sunan di Giri
mengundang Senopati. Pada bulan Muharam Senopati bernagkat bersama Adipati
Pati. Demak dan Grobogan serta penasehat setianya, Ki Juru Martani/Adipati
Mandaraka. Mereka yang disertai sekitar 6000 prajurut sampai di
Japan/Mojokerto. Di sana ternyata telah berkumpul para adipati Jawa Timur
dipimpin Pangeran Surabaya bersama 40.000 prajurit. Rupanya Mereka bersiap-siap
menghalangi serbuan Senopati.
Sunan di Giri
mengirim utusan untuk melerai mereka. Dua kali Sunan dari Giri memberikan
teka-teki melalui utusannya sehingga perang dapat dicegah dan kembalilah
prajurit Mataram ke Jawa Tengah[3].
Setelah Mataram
gagal di Mojokerto tahun 1589, Senopati melakukan konsolidasi. Di antaranya
adalah mencari dukungan dari para rohaniawan. Dari Sunan Giri ia mendapatkan
gelar sebagai panembahan. Sedang dari Sunan yang berada di Kadilangu ia
mendapatkan bebrapa pusaka perlambang kesaktian. Di antaranya adalah Kiai
Gundil / Kiai Antakusuma dari Sunan Kadilangu.
Senopati juga
mencari dukungan dari para penguasa di Jawa Tengah. Baik yang berada di selatan
maupun yang berada di utara. Dalam hal ini orang yang berjasa dan berwibawa
untuk melakukan hal ini adalah tokoh tua penasehat Sutawijaya yang bernama Ki
Juru Martani/ Adipati Mandaraka.
Sementara itu
Madiun (yang dipimpin oleh Panembahan/Pangeran Timur, putera bungsu Sultan
Trenggana) yang sebelumnya berpihak kepada Mataram, rupanya melakukan
pembelotan[4].
Pembelotan
tersebut kemungkinan besar terjadi karena (1) Panembahan Emas merasa bahwa
dirinya adalah keturunan Raja Demak sehingga derajatnya lebih tinggi daripada
derajat Senopati (2) kekuatan Bang Wetan / Jawa Timur yang lebih besar daripada
Mataram (3) ancaman Mataram merugikan posisi Madiun sehingga harus dilawan
dengan bantuan sekutu-sekutu dari Bang Wetan, serta (4) intrik-intrik atau
rayuan para penguasa Jawa Timur agar Madiun berpihak kepada Jawa Timur.
Pada tahun 1590 di
bulan Muharam, Senopati, Raja Mataram, dan sekitar 8000 prajuritnya, berangkat
ke Madiun(31). Sementara itu di Madiun sudah berkumpul pasukan
gabungan dari Jawa Timur (diberitakan sebanyak 70.000 orang). Dikabarkan
pasukan Mataram mengambil posisi di Kali Dadung, sebelah barat Madiun.
Sementara pasukan Bang Wetan mengambil posisi di sebelah timur sungai.
Melihat bahwa
kekuatan pasukannya lebih kecil dibandingkan lawannya, maka Senopati
menjalankan taktik. Ia mengirim selirnya, Nyai Adisara, yang diantar oleh 40
orang pengiringnya, diutus menghadap Panembahan Mas / Panembahan Madiun.
Tanpa mendapat
kesulitan, tandu yang berisi wanita mempesonakan itu dapat menghadap Panembahan
Emas. Ia tidak menyangka dan terpesona oleh kecantikan Nyai Adisara. Tergoda
oleh kecantikan Nyai Adisara, Panembahan Emas percaya tawaran tertulis Senopati
bahwa ia akan takkluk. Apalagi Nyai Adisara minta
air bekas cucian kaki Panembahan Emas untuk dipakai sebagai air minum
Senopati.Nyai Adisara pun kemudian kembali ke kemah Senopati di sebelah barat
sungai.
Keesokan harinya
dikabarkan bahwa sebagian pasukan Jawa Timur pulang kembali ke wilayahnya
masing-masing. Sementara yang tinggal kurang waspada.
Senopati lalu
melakukan serangan di waktu fajar dari 3 jurusan. Senopati dikisahkan memakai
baju Kiai Gundil di atas kuda Puspa Kencana turut serta dalam serbuan tersebut.
Kudanya terbunuh sekitar pukul 9 pagi tetapi masih dapat berlari sampai pukul
12. Rupanya pasukan Jawa Timur tidak siap sehingga tidak mampu menjalankan
siasat untuk menghadapi serangan tersebut.
Merasa tidak
mampu menahan serbuan Senopati, Pangeran Mas dan anaknya (Ca) Lontang lari
ke timur (ke Wirasaba/Mojoagung atau ke Japan / Mojokerto), meninggalkan
Ratna Dumilah (anak Panembahan Mas/cicit Sunan Kalijaga) yang bertahan di
Madiun. Dikabarkan bahwa Retno Dumilah ini sempat bertempur melawan Senopati
dengan menggunakan keris Kiai Gumarang walaupun akhirnya kalah dan kemudian menjadi
isteri Senopati.Sementara itu adik Retna Dumilah yang bernama Mas (Ca) Lontang
kemudian menjadi adipati di Japan (Mojokerto).
Perkawinan Retna
Jumilah dengan Sutawijaya membuahkan tiga anak, yakni RM Julig, R Bagus / R
Adipati Juminah/Panembahan Madiun dan R Mas Kanitren / Pangeran Adipati Martalaya
ing Madiun. Sementara itu perkawinan Nyi Adisara dengan Senopati juga
membuahkan anak yang bernama RM Kentol Kajoran/Kajuran.
sumber : wongwedoknusantara.blogspot.com

0 komentar:
Posting Komentar